Ent n Edu

Jumat, 09 November 2012


Media Pembelajaran

Oleh : Devy Rusdiana Sari

      Semakin sadarnya orang akan pentingnya media yang membantu pembelajaran sudah mulai dirasakan. Pengelolaan alat bantu pembelajaran sudah sangat dibutuhkan. Bahkan pertumbuhan ini bersifat gradual. Metamorfosis dari perpustakaan yang menekankan pada penyediaan meda cetak, menjadi penyediaan-permintaan dan pemberian layanan secara multi-sensori dari beragamnya kemampuan individu untuk mencerap informasi, menjadikan pelayanan yang diberikan mutlak wajib bervariatif dan secara luas.Selain itu,dengan semakin meluasnya kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta diketemukannya dinamika proses belajar, maka pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pengajaran semakin menuntut dan memperoleh media pendidikan yang bervariasi secara luas pula.
      Karena memang belajar adalah proses internal dalam diri manusia maka guru bukanlah merupakan satu-satunya sumber belajar, namun merupakan salah satu komponen dari sumber belajar yang disebut orang. AECT (Associationfor Educational Communication and Technology) membedakan enam jenis sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar, yaitu:
1.      Pesan; didalamnya mencakup kurikulum (GBPP) dan mata pelajaran.
2.      Orang; didalamnya mencakup guru, orang tua, tenaga ahli, dan sebagainya.
3.      Bahan;merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan pembelajaran,seperti buku paket, buku teks, modul, program video, film, OHT (over head transparency), program slide,alat peraga dan sebagainya (biasa disebut software).
4.      Alat; yang dimaksud di sini adalah sarana (piranti, hardware) untuk menyajikan bahan pada butir 3 di atas. Di dalamnya mencakup proyektor OHP, slide, film tape recorder, dan sebagainya.
5.      Teknik; yang dimaksud adalah cara (prosedur) yang digunakan orang dalam membeikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran. Di dalamnya mencakup ceramah,permainan/simulasi, tanya jawab, sosiodrama (roleplay), dan sebagainya.
6.      Latar (setting) atau lingkungan; termasuk didalamnya adalah pengaturan ruang, pencahayaan, dan sebagainya.

A.    Pengertian Media Pembelajaran
      Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar  sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan.
      Sedangkan menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Kemudian menurut National Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
      Dari pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

B.       Ada beberapa jenis media pembelajaran, diantaranya :
1.      Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
2.      Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
3.      Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
4.      Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.

Pada hakikatnya bukan media pembelajaran itu sendiri yang  menentukan hasil  belajar. Ternyata keberhasilan menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada (1) isi pesan, (2) cara menjelaskan pesan, dan (3) karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam memilih dan menggunakan media, perlu diperhatikan  ketiga faktor tersebut. Apabila ketiga faktor tersebut mampu disampaikan dalam media pembelajaran tentunya akan memberikan hasil yang maksimal.

C.    Tujuan menggunakan Media Pembelajaran :
Ada beberapa tujuan menggunakan Media Pembelajaran, diantaranya yaitu :
-          mempermudah proses belajar-mengajar
-          meningkatkan efisiensi belajar-mengajar
-          menjaga relevansi dengan tujuan belajar
-          membantu konsentrasi mahasiswa
-       Menurut Gagne      :  Komponen sumber belajar yang dapat merangsang siswa untuk belajar
-          Menurut Briggs          : Wahana fisik yang mengandung materi instruksional
-          Menurut Schramm     : Teknologi pembawa informasi atau pesan instruksional
-          Menurut Y. Miarso    : Segala sesuatu yang dapat merangsang proses belajar siswa

      Tidak diragukan lagi bahwa semua media itu perlu dalam pembelajaran. Kalau sampai hari ini masih ada guru yang belum menggunakan media, itu hanya perlu satu hal yaitu perubahan sikap. Dalam memilih Media Pembelajaran, perlu disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing. Dengan perkataan lain, media yang terbaik adalah media yang ada. Terserah kepada guru bagaimana ia dapat mengembangkannya secara tepat  dilihat dari isi, penjelasan pesan dan karakteristik siswa untuk menentukan Media Pembelajaran tersebut.



Gaya Pembelajaran


GAYA PEMBELAJARAN


Oleh : Devy Rusdiana Sari

        Pembelajaran merupakan satu proses reflektif di mana pelajar membangunkan persepsi dan pemahaman baru dalam proses kematangan mentalnya. Oleh itu, pembelajaran boleh dikatakan sebagai satu proses umum manakala pemikiran kritikal dan kreativiti lebih tertumpu kepada aspek-aspek spesifik dalam pembelajaran.
        Gaya Pembelajaran adalah gabungan ciri kognitif, afektif dan faktor-faktor fisiologi yang memberi penunjuk yang stabil secara relatif tentang bagaimana seorang pelajar melihat, berinteraksi dan bergerak balas terhadap persekitaran pembelajaran mereka. Selain itu, pencapaian akademik banyak dikaitkan dengan gaya pembelajaran yang dipraktikkan pelajar. Pelajar yang memperoleh pencapaian akademik yang baik selalunya mempunyai gaya pembelajaran yang berkesan. (Menurut Keefe (1979), McCaulley danNater, 1980; Miller, Always dan McKinley, 1987)
        Oleh karena itu, penting bagi pengajar mengetahui perbedaan-perbedaan diantara individu dan bagaimana untuk mengajar secara produktif daripada berbagai model pengajaran. Bagi pembelajaran pasif, pelajar boleh mengawas dan mengawal aktiviti-aktiviti kognitif. Pelajar memproses maklumat baru melalui asimilasi dan integrasi dengan maklumat lama. Manakala pembelajaran aktif, pelajar perlu membuat lebih daripada mendengar. Mereka perlu membaca, menulis dan berbincang dalam menyelesaikan masalah. Selain itu, pelajar perlu terlibat dalam peringkat tinggi dalam membuat analisis, sintesis dan penilaian.

Menurut Teori Gaya Pembelajaran, pelajar menggemari lebih daripada satu gaya pembelajaran. Teori turut mengandaikan dengan mereka bentuk pengalaman pendidikan, kurikulum dan pengajaran yang sepadan dengan gaya pembelajaran pelajar mungkin dapat memperbaiki pencapaian akademik pelajar (Irvine dan York, 1995). Walau bagaimanapun, seseorang individu boleh mengubah gaya pembelajarannya mengikut kehendak kerja pada waktu itu (Kolb, 1976), sedangkan Menurut Model Gaya Pembelajaran yang diperkenalkan oleh Dunn, Dunn dan Price, terdapat lima kategori utama rangsangan yang boleh mempengaruhi gaya pembelajaran.
ialah :

1.     Persekitaran - Merujuk kepada faktor cahaya, bunyi, suhu dan reka bentuk bilik. Reaksi pelajar kepada rangsangan ini ditentukan oleh faktor biologi. Oleh itu, ia tidak dapat mengubah pendengaran, penglihatan, suhu dan sensitiviti badan.
2.    Emosi-Merangkumi aspek perancangan berstruktur, ketekunan, motivasi dan kebertanggungjawaban. . Elemen ini mempengaruhi pelajar melalui pengalaman di rumah, sekolah, taman permainan, perjalanan dan sebagainya
3.   Sosial - Merujuk kepada faktor pasangan, rakan sebaya, sendiri dan kumpulan. Faktor ini mempengaruhi corak pembelajaran pelajar itu sendiri dan membantu mereka belajar daripada maklumat yang diperolehi dari pengalaman tersebut.
4.     Fizikal – Merangkumi kekuatan persepsi, mobiliti, pengambilan dan masa seharian. Elemen fizikal pelajar adalah biologikal secara semulajadi dan berhubung dengan bagaimana seseorang individu itu belajar melalui pancaindera yaitu auditori, visual, taktil dan kinestatik.
5.     Psikologi – Merujuk kepada faktor seperti sifat global/analitik, impulsif/reflektif dan kedominan otak kanan atau kiri. Perbezaan dalam fungsi otak menyumbang kepada perbedaan gaya pembelajaran dalam individu yang berlainan. Pembelajaran yang baik dapat dicapai apabila individu melalui pendekatan pembelajaran yang berbeza mengikut tahap kesukaran.
Berdasarkan instrumen pemilihan Gaya Pembelajaran yang utama menunjukkan ciri-ciri pelajar seperti berikut :
1. Visual
Ø  Mempelajari sesuatu dengan baik dengan melihat perkataan dalam buku, di atas papan hitam dan di dalam buku kerja.
Ø  Mengingati, memahami maklumat dan arahan dengan baik jika membaca.
Ø  Tidak memerlukan penerangan lisan dan boleh belajar secara bersendirian dengan sebuah buku.
Ø  Mengambil nota dan arahan secara lisan untuk mengingati maklumat.
2. Auditori
Ø  Belajar daripada mendengar perkataan yang diucap dan penerangan lisan.
Ø  Dapat mengingati maklumat dengan cara membaca kuat atau
menggerakkan bibir semasa membaca, terutama semasa mempelajari bahan yang baru.
Ø  Mendapat keuntungan daripada mendengar pita audio, kuliah dan
perbincangan kelas.
3. Kinestetik
Ø  Belajar melalui pengalaman secara fizikal di bilik darjah.
Ø  Mengingati maklumat dengan baik apabila mengambil bahagian dalam aktiviti, field trips dan mainkan peranan di bilik darjah.
4. Taktil
Ø  Mempunyai peluang mencari pengalaman hands-on dengan bahan-bahan.
Ø  Melaksanakan eksperimen di makmal, mengawal dan membina model.
Ø  Menulis nota atau arahan yang boleh membantu mengingati dan memahami maklumat baru melalui penglibatan fizikal di dalam kelas.
5. Belajar Berkumpulan
Ø  Lebih mudah, sekurang-kurangnya dengan seorang pelajar dan lebih berjaya menyiapkan kerja apabila bekerja dengan orang lain.
Ø  Menghargai interaksi dan kerja berpasukan dengan pelajar lain dan mudah mengingati maklumat apabila bekerja dengan dua atau tiga rakan lain.
6. Belajar Bersendirian
Ø  Dapat berfikir dengan lebih baik apabila belajar bersendirian.
Ø  Dapat mengingati maklumat yang dipelajari sendiri.
Ø  Memahami dan lebih berjaya dalam pelajaran apabila bekerja sendirian
Gaya pembelajaran pelajar yang perlu diketahui oleh guru:
Gaya pembelajaran seseorang pelajar dapat mempengaruhi keseluruhan aktiviti dan proses  pengajaran dan pembelajaran. Guru harus berusaha menghubungkan pelajar dengan ilmu pengetahuan dan bukan mengisi serta menyuap pelajar dengan ilmu.  Justeru itu adalah penting guru-guru memahami serta mengetahui gaya pembelajaran yang ditonjolkan oleh pelajar.Pada asasnya, terdapat tiga jenis gaya pembelajaran yang harus diketahui serta difahami  iaitu:
  Pelajar visual: (belajar dengan melihat)
Ø  Huruf atau perkataan
Ø  Benda, gambar atau gambar rajah
Ø  Demostrasi, tindakan atau lakonan

   Pelajar audio: (belajar dengan mendengar atau bercakap)
Ø  Mendengar cerita, penerangan, syarahan, huraian olehguru atau pelajar lain
Ø  Menerangkan, berbual, memberi pendapatnya, bercerita atau menghuraikan
    Pelajar kinestetik: (belajar dengan membuat atau melakukan sesuatu):
Ø  Menulis atau melukis sesuatu
Ø  Membuat latihan, kerja amali, eksperimen, lakonan, simulasi, atau projek



Pembelajaran Klasikal


Model Pembelajaran Klasikal
Oleh : Rully Andarini

Model pembelajaran klasikal juga disebut juga kegiatan memberikan informasi dengan kata-kata. Pengajaran sejarah, merupakan proses pemberian informasi atau materi kepada siswa serta hasil dari penggunaan metode tersebut sering tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Makna dan arti dari materi atau informasi tersebut terkadang ditafsirkan berbeda atau salah oleh siswa. Hal ini karena tingkat pemahaman setiap siswa yang berbeda-beda atau dilain pihak guru sebagai pusat pembelajaran kurang pandai dalam menyampaikan informasi atau  materi kepada siswa.
Pembelajaran klasikal mencerminkan kemampuan utama guru, karena pembelajaran klisikal ini merupakan kegiatan belajar dan mengajar yang tergolong efisien. Pembelajaran secara klasikal ini berarti bahwa seorang guru melakukan dua kegiatan skaligus yaitu mengelolah kelas dan mengelolah pembelajaran. Pengelolan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara baik dan meyenangkan yang di lakukan di dalam kelas. Di ikuti sejumlah siswa yang di bimbing oleh seorang guru.
Dalam hal ini guru di tuntut kemampuannya mengunkan tehnik-tehnik penguatan dalam pembelajaran agar ketertiban belajar dapat di wujudkan. Pengajaran klasikal dirasa lebih sesuai dengan kurikulum yang uniform. Yang dunilai melalui ujian yang uniform pula. Hasil penelitian J. H. Pesta Lozzi (1746-1827) mengejarkan bermacam-macam mata pelajaran pertukaran di sekolah sejak pesta lozzi pengajaran individual oleh seorang tutor. Pengajaran klasikal merupakan keharusan dalam menghadapi sejumlah murid yang membanjiri sekolah akibat demokrasi, indusrilisasi, pemeretaan, dan pendidikan atau kewajiban belajar. Dengan sendirinya di cari usaha untuk memperbaiki Pengajaran klasikal itu.
Salah satu proses pembelajaran yang masih sering di gunakan adalah dengan model pembelajaran klasikal yang berpusat pada guru dan cenderung membuat siswa menjadi pasif . Menurut Suyosubroto (2002:83) menyatakan bahwa dalam pembelajaran klasikal guru beranggapan bahwa seluruh siswa satu kelas mempunyai kemampuan (ability), kesiapan dan kematangan (maturity) dan kecepatan belajar yang sama. Meskipun dengan model klasikal guru dapat dengan mudah menguasai kelas dan mudah di laksanakan, tetapi suatu proses pembelajaran akan menjadi efektif dan bermakna apabila ada interaksi antara siswa dan sumber belajar  dengan materi , kondisi ruangan , fasilitas , penciptaan suasana dan kegiatan belajar yang tidak monoton. Dalam proses belajar siswa adalah pelaku aktif kegiatan belajar dengan membangun sendiri pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman  yang di milikinya.
Merosotnya kualitas pendidikan disebabkan karena sistem yang kurang tepat. Sistem klasikal dinilai belum mampu mengembangkan kemampuan anak didik karena telah membatasi perkembangan mereka. Sekalipun ada yang mempunyai kemampuan lebih, apalagi guru sudah menyusun program satuan pelajaran maupun rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru semuanya serba seragam.
Masalah lain dalam bidang pendidikan di Indonesia adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi oleh peran guru. Guru lebih banyak menempatkan siswa sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan berfikir holistik, kreatif, objektif serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual.
Proses pendidikan di sistem persekolahan Indonesia, umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai anak menguasai materi pembelajaran secara tuntas, akibatnya tidak aneh bila masih banyak siswa yang tidak menguasai materi pembelajaran secara tuntas.

v  Kelemahan dan Kelebihan Model Pembelajaran Klasikal
·         Kelemahan :
1.      Mudah menjadi verbalisme.
2.      Yang visual menjadi rugi, dan yang auditif (mendengarkan) yang benar-benar menerimanya.
3.      Bila selalu digunakan dan terlalu digunakan dapat membuat bosan.
4.      Keberhasilan metode ini sangat bergantung pada siapa yang menggunakannya.
5.      Cenderung membuat siswa pasif
·         Kelebihan :
1.      Guru mudah menguasai kelas.
2.      Mudah mengorganisasikan tempat duduk / kelas.
3.      Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.
4.      Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.
5.      Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
6.      Lebih ekonomis dalam hal waktu.
7.      Memberi kesempatan pada guru untuk menggunakan pengalaman, pengetahuan dan kearifan.
8.      Dapat menggunakan bahan pelajaran yang luas
9.      Membantu siswa untuk mendengar secara akurat, kritis, dan penuh perhatian.
10.  Jika digunakan dengan tepat maka akan dapat menstimulasikan dan meningkatkan keinginan  belajar siswa dalam bidang akademik.
11.  Dapat menguatkan bacaan dan belajar siswa dari beberapa sumber lain







Upaya Peningkatan Kompetensi Siswa
Melalui Pembelajaran Inovatif

Oleh : Rully Andarini



Mengajar bukan semata menceritakan bahan pembelajaran kepada siswa. Dan juga bukan merupakan konsekuensi  otomatis penuangan  ke dalam benak siswa. Namun belajar memerlukan keterlibatan mental dan perbuatan siswa itu sendiri. Penjelasan dan pemeragaan dari guru semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang optimal. Hasil belajar yang optimal hanya akan diperoleh jika proses pembelajaran yang dilakukan banyak melibatkan siswa untuk beraktifitas serta mengembangankan kreatifitas yang dimiliki siswa secara optimal.
Bagaimanakah caranya membuat proses pembelajaran yang  aktif dan kreatif? Proses pembelajaran akan menjadi aktif jika siswa terlibat langsung dalam penyelesaian semua masalah yang diberikan oleh gurunya. Dalam prosesnya siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduknya, bergerak leluasa dan berfikir keras, mengkaji gagasan, memecahkan masalah , dan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya.
Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, siswa perlu mendengarnya, melihatnya, mengajukan pertanyaan tentang kompetensi yang sedang dibahas serta membahasnya dengan orang lain. Dan bahkan tidak cukup saja, melainkan siswa perlu mengerjakannya yakni menggambarkan sesuatu dengan caranya sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktikkan keterampilannya, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah  atau harus mereka dapatkan.
Kita tahu bahwa siswa bisa belajar dengan sangat baik jika mempraktikkannya, namun bagaimana caranya kita bisa menggalakkan belajar aktif dan kreatif? Semua permasalahan ini dapat dijawab dengan menerapkan pendekatan pembelajaran yang inovatif.
Bentuk Pembelajaran inovatif dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, diantaranya dengan menggunakan Pendekatan kontekstual atau sering disebut dengan istilah Contextual Teaching and Learning  (CTL), dan Pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM).
Pembelajaran inovatif adalah proses pembelajaran yang dirancang oleh guru dengan menerapkan beberapa metode dan teknik dalam setiap pertemuan. Untuk bisa melakukan pembelajaran yang inovatif guru dituntut mempunyai wawasan yang luas dalam hal metode pembelajaran. Jika hal ini tidak dimiliki oleh seorang guru maka pembelajaran tidak menutup kemungkinan mengarah ke pembelajaran ”tradisional” (ceramah, tanya jawab, diskusi).
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Evektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) adalah merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang dilakukan dengan menerapkan multi metode, multi media dan melibatkan multi aspek (logika, praktika, estetika, dan etika). Oleh sebab itu dalam proses pembelajarannya dapat memanfaatkan lingkungan sekitar, sehingga proses pembelajarannya tidak hanya dilakukan di dalam kelas melainkan dapat juga di luar kelas.
Kualitas mutu pendidikan sangat dipengaruhi oleh bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan guru terhadap para siswanya. Pembelajaran yang monoton dirasakan membosankan bagi siswa. Untuk mengatasi hal tersebut proses pembelajaran yang inovatif sangat diperlukan.
Pendekatan kontekstual dan PAIKEM merupakan contoh pendekatan pembelajaran inovatif. Pendekatan ini hanya dapat dilakukan jika guru mempunyai dedikasi dan kreatifitas yang tinggi, jika dua sikap ini tidak dimiliki oleh guru maka sangat mustahil proses pembelajaran dapat dilakukan dengan baik. Pendekatan ini juga menuntut siswa untuk selalu aktif, kreatif, dan inovatif.